Random post

Friday, December 21, 2018

√ Dasar Teori Preparasi Larutan Pengenceran Dan Pembuatan Larutan Baku

Praktikum Preparasi Larutan Pengenceran dan Pembuatan Larutan Baku sangatlah penting dalam mempelajari Ilmu Kimia. Teknik dasar laboraturium ini sangat dibutuhkan oleh Mahasiswa Kimia ataupun pelajar kimia. Pada Praktikum Preparasi Larutan, Pengenceran dan Pembuatan Larutan Baku akan dikenalkan peralatan laboraturium dan teknik dasar laboraturium, mencakup jenis-jenis gelas kimia, cara menuang larutan, cara memakai gelas ukur, gelas arloji, pipet ukur, buret, dan terutama penggunaan labu ukur.


 


Dasar Teori Praktikum Preparasi Larutan


Tinjauan Pustaka Praktikum Preparasi Larutan


Praktikum preparasi larutan umumnya dilakukan dengan memakai senyawa HCL, NaOH dan beberapa senyawa sederhana yang sanggup diperoleh dengan mudah. Karena masih merupakan bab dari pengenalan laboraturium, pada praktikum ini dibutuhkan pemahaman akan Pengenalan Alat-Alat Laboraturium yang memadai. Sebagai sesama pelajar kimia, saya ingin membagikan Dasar Teori Praktikum Preparasi Larutan Kimia berikut ini.


Pengenceran yaitu pencampuran larutan pekat (berkonsentrasi tinggi) dengan pelarut umum yang bertujuan untuk meningkatkan volume dari larutan dan menurunkan kepekatan larutan. Pelarut ialah senyawa yang mendominasi jumlahnya dalam suatu larutan, misalnya garam yang dilarutkan dalam air, maka pelarutnya ialah air yang jumlahnya lebih banyak. Jika suatu larutan senyawa kimia dilarutkan dalam pelarut, terkadang dilepaskan sejumlah panas (eksotermik). Contohnya saja pada pengenceran H2SO4.


Maka salah satu teknik dasar laboraturium yang dibutuhkan ialah melaksanakan penambahan asam sulfat ke dalam pelarutnya(air) dan dihentikan sebaliknya, alasannya yaitu kalau air yang dituangkan ke dalam asam sulfat, asam sulfat akan memercik alasannya yaitu reaksi kimia eksotermik yang tejadi. Percikan zat asam ini berbahaya dan sanggup merusak kulit. (Braddy, 1999)


Dalam Pembuatan larutan baku dengan konsentrasi tertentu sering diperoleh konsentrasi yang tidak diinginkan. Maka untuk mengetahui konsentrasi yang sebenarnya, perlu kita lakukan standarisasi. Standarisasi larutan sering dilakukan dengan metode titrasi. (Somishin, 1975)


Setiap zat padat, cair, atau gas mempunyai kemampuan larut yang berbeda-beda pada setiap pelarut. Perbedaan wujud ini juga membeirkan indikasi bahwa pelarutan suatu senyawa harus memakai cara cara tertentu. Rencana dan mekanisme dari setiap pelarutannya pun berbeda-beda, berkembang sesuai dengan sifat larut dari senyawa yang terlibat. Sifat analisis atau eksperimen yang diterapkan diubahsuaikan dengan reaksi tertentu semoga analisis tersebut sanggup memperlihatkan hasil yang sanggup diteliti dengan benar.


Maka selain harus mengetahui persamaan reaksi kimia yang terjadi, alat-alat laboraturium yang dipakai juga harus dipilih semoga sanggup diperoleh hasil yang valid. Selain itu, pembuatan stok pereaksi berupa larutan harus memakai teknik atau cara pembuatan tertentu yang diubahsuaikan dengan sifat larutan yang ditangani.


Sebagai misalnya ialah pembuatan larutan NaCl 1M dan 0,10 M, atau pembuatan HCl 1M dan 0,10. Pertama-tama dilakukan teknik pengukuran volume memakai pipet volume, kemudian dilakukan pengenceran dengan memakai labu takar. Proses pembuatan larutan dari zat padatnya disebut dengan pengenceran. Begitu pula dengan proses pembuatan larutan dari zat pekatnya disebut dengan pengenceran. (Khopkar, 1990)


Pelarutan zat pada untuk menghasilkan larutannya sering dilakukan dalam kedidupan sehari-hari. Contohnya saja, sejumlah zat padat dituangi pelarut dalam voume tertentu, kemudian diikuti dengan pengadukan sampai terbentuk larutan. Pembuatan larutan dari zat padat biasanya dilakukan untuk menciptakan pereaksi pada analisa kuantitatif atau pada penggunaan lainnya di laboraturium.


Pembuatannya harus mengikuti mekanisme kerja yang sempurna dan sesuai dengan kebutuhan. Karena bila terjadi kesalahan akan menyebabkan pemborosan zat kimia yang berharga mahal, tenaga dan waktu yang terbuang sia-sia dan data pengamatan yang tidak valid. Kesemua imbas jelek itu harus dihindari.(Baroroh, 2004)


Pada umumnya asam-asam anorganik berupa cairan pekat ada yang berasap atau bersifat sangat korosif. Sedangkan zat cair organik umumnya bersifat gampang menguap (volatile) dan gampang terbakar. Asam-asam anorganik dan beberapa cairan organik seringkali harus disediakan dalam laboraturium berupa stok larutannya yang lebih encer dalam suatu pelarut. Teknik pengenceran cairan pekat asam anorganik dan organik intinya tidak terlalu berbeda. Teknik pengenceran ini melibatkan teknik penghitungan konsentrasi, pengambilan volume dan pengenceran larutan. (Henneth, 1992)


Pengenceran merupakan penambahan pelarut ke dalam suatu larutan. Prinsip dasar dari pengenceran ialah jumlah mol dari zat terlarut tidak akan berubah, shingga sanggup dirumuskan dalam persaman: Larutan baku atau larutan standard merupakan larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan pasti. Untuk mengetahui konsentrasinya, larutan tersebut harus dibakukan atau di-standarisasi dengan ketentuan khusus sehingga disebut larutan baku. Cara paling umum yang dilakukan untuk standarisasi larutan ini ialah dengan memakai tekanik titrasi.


[text_with_frame id=”a117f2854c29b0ad7d20f1896646a96d” content=”‹¨›p style‹´›‹²›text-align: center;‹²›‹˜›‹¨›strong‹˜›M1.V1‹´›M2.V2 ; dengan,‹¨›/strong‹˜›‹¨›/p‹˜›‹¨›p style‹´›‹²›text-align: left;‹²›‹˜›‹¨›strong‹˜›M1‹¨›/strong‹˜›‹´› Konsentrasi Pekat‹¨›/p‹˜›‹¨›p style‹´›‹²›text-align: left;‹²›‹˜›‹¨›strong‹˜›V1 ‹¨›/strong‹˜›‹´› Volume Zat Pekat‹¨›/p‹˜›‹¨›p style‹´›‹²›text-align: left;‹²›‹˜›‹¨›strong‹˜›V2 ‹¨›/strong‹˜›‹´› Volume Total (Zat Pekat + Pelarut)‹¨›/p‹˜›” line_color=”rgba(0,0,0,.07)” text_font=”body” heading_font=”heading” animation=”none” animation_speed=”2″ animation_delay=”0″ _fw_coder=”aggressive” __fw_editor_shortcodes_id=”ebbd2f7e06947f87d7d226ab998803f0″][/text_with_frame]Teknik Pengenceran daat dicontohkan pada proses preparasi Boehmite oleh hidrotermal dimana pengolahannya dibantu oleh sol-gel yang berasal dari alumunium alkoksida. Teknik pengenceran tersebut dijelaskan secara lebih rinci terutama pada proses hidrolisis. Untuk hidrolisis memakai hidrothermal, alumunium alkoksida diencerkan dengan toluen kemudian ditampung dalam wadah kaca. Wadah beling tersebut kemudian diletakkan di sebuah baja stainless. Alumunium alkoksida yang telah terhidrolisis kemudian akan berdifusi dengan air menjadi larutan alumunium alkoksida pada kondisi hidrothermal. (Amin’s dan Mirzae, 2005)


 


Daftar Pustaka




  1. Amini and Mirzae, 2005, Effect of Solution Chemistry on Preparation of Boehmite by Hydrothermal Assisted Sol-Gel Processing of Alumunium Alkoxides. Springer Science Business Media, Inc. USA. 

  2. Baroroh, Um L. U., 2004, Kimia Dasar I, Universitas Lambung Mangkurat : Banjarbaru

  3. Brady J. E., 1999, Kimia Universitas Asas dan Struktur, Binarupa Aksara : Jakarta

  4. Henneth, 1992, Experiment in General Chemistry, Harcout Brace College Publisher : USA

  5. Khopkar S. M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia : Jakarta

  6. Semishin V.,1975, Laboratory Exercise in General Chemistry, Peace Publisher : Moscow



Artikel Kimia ini termasuk dalam proyek Cara Belajar Kimia Online

Untuk mebaca materi kimia lainnya silahkan Klik Di Sini 



Sumber https://mystupidtheory.com