Random post

Showing posts with label Pancasila. Show all posts
Showing posts with label Pancasila. Show all posts

Wednesday, January 31, 2018

√ Lambang Negara

Lambang Negara Indonesia ialah Garuda






yaitu seekor burung berkalungkan perisai dan mencengkeram pita.

Kepala burung menghadap arah kanan, yang berarti kebenaran.

Dua sayap masing-masing berbulu 17 helai, angka yang melambangkan tanggal kelahiran negara kita.

Ekor mempunyai bulu 8 helai, yang melambangkan bulan kelahiran negara kita.

Badan burung bab bawah mempunyai 19 bulu yang melambangkan masa kelahiran negara kita.

Badan burung bab leher yang mempunyai bulu 45 helai, yang melambangkan tahun kelahiran negara kita.

Perisai / tameng yang menggambarkan isi dasar negara.

Kaki mencengkeram pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua.




Sumber http://tatabahasayangbaik.blogspot.com

Tuesday, January 30, 2018

√ Sila Pertama


Bintang:



SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA 



Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan iman masing-masing berdasarkan dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Hormat menghormati dan berhubungan antar pemeluk agama dan penganut-penganut iman yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunana hidup.

Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan.

Tidak memaksakan suatu agama dan iman kepada orang lain.

Menolak iman atheisme di Indonesia.





Sumber http://tatabahasayangbaik.blogspot.com

√ Sila Kedua


Rantai:


SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB



Mengakui persamaan derajat, hak dan kewajiban antara sesama manusia. 

Saling mengasihi sesama manusia.

Mengembangkan perilaku tenggang rasa. 

Tidak semena-mena terhadap orang lain.

Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Gemar melaksanakan aktivitas kemanusiaan.

Berani membela kebenaran dan keadilan.

Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bab dari seluruh umat manusia, oleh alasannya ialah itu menyebarkan perilaku hormat-menghormati dan berhubungan dengan bangsa lain.



Sumber http://tatabahasayangbaik.blogspot.com

Monday, January 29, 2018

√ Sila Ketiga


Pohon Beringin:



SILA PERSATUAN INDONESIA


Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara diatas kepentingan langsung atau golongan.

Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.

Cinta Tanah Air dan Bangsa.

Bangga sebagai bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia.

Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.





Sumber http://tatabahasayangbaik.blogspot.com

√ Sila Keempat


Kepala Banteng:


SILA KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAH KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN



Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.

Tidak memaksakan kehendak pada orang lain.

Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.

Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab mendapatkan dan melakukan hasil musyawarah.

Musyawarah dilakukan dengan nalar sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

Keputusan yang diambil harus sanggup dipertanggung-jawabkan secara susila kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat insan serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.




Sumber http://tatabahasayangbaik.blogspot.com

Sunday, January 28, 2018

√ Sila Kelima


Padi dan Kapas:


SILA KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA



Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan perilaku dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.

Bersikap adil.

Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Menghormati hak-hak orang lain.
Suka memberi dukungan kepada orang lain.

Menjahui perilaku pemerasan terhadap orang lain.
Tidak bersikap boros.

Tidak bergaya hidup mewah.

Tidak melaksanakan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.

Suka bekerja keras.

Menghargai hasil karya orang lain.
Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.




Sumber http://tatabahasayangbaik.blogspot.com

Saturday, May 27, 2017

√ Guru Kerap Mengajarkan Pancasila Sekedar Pengetahuan

Guru Kerap Mengajarkan Pancasila Sekedar Pengetahuan √ Guru Kerap Mengajarkan Pancasila Sekedar Pengetahuan
Ke depan pembentukan aksara Pancasila akan lebih bersifat praktik, bukan sekedar tataran pengetahuan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kepala Balitbang Kemendikbud), Totok Suprayitno menjelaskan, para guru kerap merasa Pancasila sering berhenti pada tataran pengetahuan dan ujian. Padahal Pancasila seharusnya melampaui ilmu pengetahuan dan pelajaran.

Untuk itu, perlu dilakukan revitalisasi penanaman nilai-nilai Pancasila supaya belum dewasa dididik dengan mengutamakan pembudayaan Pancasila. Sehingga, lanjut Totok, guru pengampu mata pelajaran Pancasila bertindak sebagai vocal point untuk pelaksanaan Pancasila.

Ditambahkan Totok, ke depan pembentukan aksara Pancasila akan lebih bersifat praktik, bukan sekedar tataran pengetahuan. Dia mencontohkan, dikala mengajarkan nilai gotong royong, guru harus pribadi praktik, sehingga tidak hanya pada tataran teori.

Dia pun menegaskan, para siswa tidak akan dibebankan mengikuti ujian sebagai penilaian selesai mata pelajaran Pancasila. Evaluasi berbentuk ujian akan kembali menempatkan bahan Pancasila di tataran pengetahuan alasannya berakhir pada penilaian.

"Penilaian selesai itu ujiannya apa, jadinya pendidikan berakhir di penilaian. Kami sudah ada rapor karakter, tapi deskripsi penilaian pun bukan pelabelan pada anak," kata Totok yang kutip dari JPNN (12/07/19).

Evaluasi, nantinya, berdasarkan Totok, akan berupa deskripsi pencapaian siswa pada rapor aksara pengembangan sikap, karakter, nilai, dan moral  Pancasila. Ia Mencontohkan karakter empati yang dicerminkan pada sikap faktual menyerupai menolong sobat yang kekurangan atau membutuhkan.

"Guru mendeskripsikan, misal Pancasila tenggang rasa dicerminkan sikap nyata, itu menolong anak yang kekurangan yang membutuhkan, jadi bagaimana anak menolong temannya, apakah belum berkembang, sudah berkembang, sudah terbiasa, dan sudah membudaya," terang Totok.

Lihat juga: Kemendikbud Revisi Mata Pelajaran PPKn

Pendidikan nilai susila Pancasila menjadi wahana strategis bagi pengembangan kesadaran moralitas anak melalui pengalaman berguru dengan hubungan yang lebih luas dan plural.

Penumbuhan pribadi subyek didik dapat pula dilakukan melalui acara ekstrakurikuler, menyerupai pelatihan rohani siswa, acara Pramuka, olah raga, organisasi, pelayanan sosial, karya wisata, lomba, kelompok studi. Jalur ini memberi wahana interaksi komunikasi sekaligus mengasah diri subyek didik menjadi generasi bangsa yang cerdas, dan berintegritas.
Sumber http://www.sekolahdasar.net