Random post

Tuesday, February 5, 2019

√ Perang (Ber)Kelas


Kemarin saya sempat chating dan bertukar sapa dengan sobat SMPku. Roman Gusmana namanya, demi peristiwa itu saya jadi ingat sebuah peristiwa di masa Sekolah Menengah Pertama yang mau saya ceritakan. 




Itu yakni hari selasa, hari dimana kami semua memakai seragam putih biru. Seragam ohh… Seragam.. saya benci kamu! Hari ini di mulai dengan pelajaran-pelajaran yang serius Matematika, Bahasa Inggris, namun sehabis istirahat pertama akan ada mata pelajaran Keterampilan Tangan dan Kesenian . Dan dari mata pelajaran itulah semua peristiwa berawal. Sudah diberitahukan seminggu yang kemudian untuk membawa tanah liat untuk pelajaran Keterampilan tangan dan kesenian hari ini, alasannya yakni kami akan menciptakan kerajinan gerabah dari tanah liat. Selepas istirahat pertama hari itu kami pribadi masuk kelas dan mulai membuka tanah liat kami masing-masing. Aku yakni yang membawa tanah liat paling banyak, itu alasannya yakni ada Pabrik(kalau saja boleh di bilang pabrik) Bata di sebelah rumahku. Beberapa sobat jadinya meminta tanah liat yang saya bawa, dengan bimbingan dari guruku, kami menciptakan banyak sekali macam bentuk, saya menciptakan bentuk asbak yang ada hiasan kepala burung di bab pinggirnya. Beberapa sobat menciptakan patung binatang, dan yang lainnya menciptakan miniatur benda-benda menyerupai pesawat, kendaraan beroda empat dan sejenisnya. Tidak terasa bell istirahat kedua telah berdering. dan pelajaran kesenian ‘pun berakhir. 




Selepas istirahat kedua kami masih harus masuk kelas mata pelajaran PKN. Saat itu ibu guru kami belum datang, bukan belum tiba ke kelas tetapi belum tiba dari luar kota, sehingga dapat di pastikan ini yakni jam kosong. Aku mengajak temanku bermain tanah liat yang sisa dari pelajaran Kesenian sebelumnya. Awalnya saya hanya membuat-buat bentuk saja dengan tanah liat, sampai kemudian saya iseng melempar temanku dengan tanah liat. Tepat mengenai kepalanya dari belakang. Ari yang duduk di sebelah kananku tertawa nyaring sekali, menjadikan sobat yang saya lempar kepalanya menerka bahwa Ari yang melemparnya. Akhirnya Ari kena satu lemparan juga. Ari yang merasa tak bersalah melawan dengan melemparkan tanah liat juga. Itu hanya perlu waktu beberapa ketika sampai terjadinya lempar-lemparan di selurh kelas. Aku yang tidak menyangka akan begini jadinya hanya dapat menikmatinya, itu juga alasannya yakni amunisi tanah liatku masih sangat banyak. Sepertinya hampir seluruh isi kelas menikmati perang lumpur ini. 




Ketika saya sedang membidik seorang sobat sekelasku yang sedang tertawa, secara tidak sengaja saya melihat dari jendela ada seorang guru yang tiba ke arah kelas kami, dan ketika itu juga saya pribadi pergi. Aku lari secepat mungkin ke toilet, dan sehabis di toilet saya gres tersadar bahwa bajuku kotor dipenuhi bercak noda tanah liat. Aku sengaja berlama-lama di toilet biar tidak kena murka guru yang tiba itu. Aku biarkan dulu sobat sekelas kena marah, dan dengan tanpa rasa bersalah saya masuk kelas, duduk anggun sejenak, memasukkan buku-buku dan pulang.. Ahhh.. What a beautifull day!





Di tulis sambil duduk di bangku duduk.


Sumber https://mystupidtheory.com