Random post

Wednesday, August 22, 2018

√ Sejarah Air Di Bulan : Pencarian Jejak Kehidupan Di Luar Angkasa (1)

Pastinya kalian sudah pada tahu khan seberapa pentingnya keberadaan air bagi para astronom, saintis dan geolog? Yah.. Hingga ketika ini saintis hanya bisa menemukan kehidupan di tempat-tempat yang mempunyai air. Oleh karenanya keberadaan air diidentikkan dengan kemungkinan keberadaan kehidupan. Salah satu yang paling awal dalam eksplorasi air di luar angkasa ialah wacana sejarah keberadaan air di Bulan.






Manusia menginjakkan kaki ke Bulan






Sudah tidak ajaib lagi khan dengan dongeng insan pertama yang menginjakkan kaki di Bulan? Yap.. Neil Amstrong dan Buzz Aldrin (pilotnya) telah menawarkan catatan sejarah yang luar biasa sebagai orang pertama yang mengijakkan kaki di bulan. Walaupun misi ini bahwasanya lebih kepada misi militer dibandingkan misi ilmu pengetahuan, tetapi ini sudah menjadi ajang pembuktian bahwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi insan bisa mencapai luar angkasa, bahkan menginjak bulan!





Dalam catatan sejarah, insan telah berhasil menginjakkan kaki ke bulan dengan Appolo 11 pada 1969, namun ketika itu masih belum diketahui apakah bulan mempunyai kandungan air. Kedatangan Neil ke bulan hanya membawa pulang beberapa bongkahan kerikil yang berasal dari bulan, namun tidak mengelilingi bulan sehingga belum mengetahui keberadaan kawah-kawah bessar dan kandungan air di bulan. 




Dalam beberapa informasi telah dikabarkan bahwa selanjutnya China juga akan mengirimkan spacecraft-nya untuk membawa astronot menginjakkan kaki di bulan. Bahkan mereka berencana menciptakan basis luar angkasa di bulan pada tahun 2018 kemudian akan melanjutkan pencapaian ini untuk menginjakkan kaki di Mars pada 2020 [1].


Artinya bulan masih mempunyai sisi menarik untuk penjelajahan luar angkasa.





Pertanyaan wacana apakah ada air di Bulan? ini telah terjawabkan dengan diluncurkannya The Clementine pada tahun 1994, spacecraft yang ditujukan untuk mengamati permukaan bulan dari dekat. Space craft ini kemudian mengirimkan data wacana bulan pada 1996, salah satu gambar yang diperoleh satelit ini memperlihatkan adanya kawah di bab kutub selatan yang mengandung es, ketebalan es ini diperkirakan 7.6 meter dan luasnya seukuran danau kecil. 




Data dari The Clementine ini kemudian dikonfirmasi lagi dengan satelit lainnya Lunar Prospector pada tahun 1998. Ini menciptakan ilmuwan terkejut sekaligus tertarik untuk mempelajari lebih jauh wacana bulan.




Masih dari Lunar Prospector kesudahannya menemukan data bahwa jumlah es di permukaan bulan ini mencapai 6 milyar ton. Jumlah yang sangat fantastis.







Bagaimana Air masih ada di Bulan?




Pertanyaan yang sama juga saya pikirkan ketika membaca wacana keberadaan air di bulan ini. Bulan merupakan satelit kecil bumi yang di permukaanya tidak terdapat atmosfer, jadi seluruh bab permukaan bulan akan terekspos eksklusif dengan ruang hampa (vacuum space). Artinya es akan di permukaan bulan akan lansung menguap, kemudian air akan segera menghilang dari permukaan bulan alasannya yakni tidak adanya tekanan atmosfer dan gravitasi bulan tidak cukup berpengaruh untuk menahan uap air ini. 




Selain itu bulan juga mendapatkan sinar matahari eksklusif tanpa adanya atmofer sehingga temperatur di bulan mencapai 395 K atau 122 oC, artinya ini menjamin bahwa air di permukaan bulan akan eksklusif menguap ketika terkena sinar matahari eksklusif (walau hanya sebentar).











Area berwarna biru merupakan Aitken Basin

Namun di bab Kutub Selatannya, khususnya kawasan Aitken basin, terdapat kawah berukuran besar yang di dalamnya tidak pernah terkena sinar matahari. Tempat ini mempunyai temperatur yang sangat rendah yaitu tak lebih dari 100 K atau -173 oC. Karena keberadaan kawah di kutub selatan yang tidak pernah terekpos sinar matahari ini, maka memungkinkan adanya es yang sudah tersimpan jutaan tahun lamanya [2]

Baca Juga: Perjuangan Einstein Dalam Sains






Mengapa di Bulan Tidak Ada Kehidupan?




Seberapapun banyak jumlahnya, permasalahan utamanya ialah air hanya bisa diakses sebagai nutrient atau sumber kehidupan jikalau dalam bentuk cairan, sementara dalam bentuk kristal es air membutuhkan proses komplemen untuk bisa menjalankan proses kehidupan.


Validasi bahwa di bulan tidak memungkinkan adanya kehidupan ialah cahaya matahari yang mengenai permukaan bulan secara eksklusif akan menciptakan temperatur di bulan sangat tinggi dan radiasi matahari eksklusif akan menyebabkan seluruh jenis kehidupan yang dikenal di bumi mati tak berdaya. Fakta-fakta ini merujuk pada satu kesimpulan bahwa air saja tak cukup untuk hidup, namun juga harus dalam bentuk yang bisa menyusun matriks kehidupan yaitu cairan [4].

Baca Juga: Sifat-sifat Unik Air



Hidup di Bulan


Ilmuwan tidak hanya berhenti pada pengetahuan bahwa di bulan tidak ditemukan gejala kehidupan, aneka macam ilmuwan, astronom dan geolog yang memimpikan kehidupan insan di bulan.


Tidak menemukan kehidupan di bulan tak menjadi masalah, pertanyaan selanjutnya ialah “apakah mungkin insan tinggal dan hidup di bulan? Definisi dari tinggal dan hidup di bulan ini bisa diartikan sebagai kolonialisasi (pembentukan masyarakat), ataupun hanya sekedar memposisikan bulan sebagai post luar angkasa dari bumi.


Dari segi sumberdaya yang ada, bulan tidaklah begitu menarik. Bulan tidak mempunyai hujan berlian menyerupai Saturnus dan Jupiter, juga tidak mempunyai air dan tumbuhan menyerupai bumi. Jika ada potensi besar yang dimiliki bulan, itu hanyalah energi matahari yang sagat besar untuk sel surya [3,4]


Jadi banyak ilmuwan yang juga menentang inspirasi kolonialisasi bulan, alasannya yakni memang terasa sangat tidak menguntungkan. Untuk alasan eksplorasi, penggunaan robot jauh lebih efisien, hemat dan menawarkan banyak informasi.


Namun beberapa saintis tetap berlomba-lomba untuk inspirasi bahwa bulan sanggup dipakai sebagai tempat tinggal manusia. NASA bahkan melaksanakan banyak penelitian dan merancang beberapa alat untuk mengekstrak air di bulan. Ide utamanya begitu sederhana, pertama mengambil bongkahan es memakai robot (karena temperaturnya terlalu dingin), kemudian menyerap energi matahari (yang banyak di bulan) dan melepaskan energi tersebut dalam bentuk mikrowave, hasilnya ialah es dari permukaan bulan akan menjadi air H2O(liquid) [5].


Apakah insan akan benar-benar mempunyai kolonialisasi di bulan menyerupai pada Manga dan Anime Gundam? Kurasa masih banyak pertanyaan yang harus dijawab untuk hingga pada kolonialisasi bulan, termasuk pada pertanyaan aturan fundamental “milik siapa bulan ini? Siapa yang berhak meninggalinya, memanfaatkannya termasuk merusaknya?”


Yap itulah sedikit dongeng wacana sejarah air di bulan, berikutnya saya akan menulis wacana Sejarah air di Mars : Pencarian Jejak Kehidupan di Luar Angkasa (2).



Sumber:

1. https://phys.org/news/2016-12-china-probes-side-moon-mars.html

2. https://nssdc.gsfc.nasa.gov/planetary/ice/ice_moon.html

3. http://www.bbc.com/news/science-environment-24477667

4. Philip Ball, 1999, H2O A Biography of Water, Great Britain, Clay Ltd, St. Ives plc

5. http://www.space.com/7350-nasa-hopes-water-moon.html




Sumber https://mystupidtheory.com