Latar Belakang
Pertambahan jumlah penduduk suatu kota,cepat atau lambat, suka tidak suka, akan menimbulkan aspek dan dampak yang sangat signifikan , seiring meningkatnya jumlah penduduk yang meningkat dari tahun ke tahun. Pesatnya pertumbuhan dan kemajuan pembangunan Kota, turut menawarkan andil dan warna apakah kota tersebut dalam kategori indah, higienis dan sehat, atau sebaliknya. Masalah sampah dan kota bagaikan dua mata sisi keping uang logam yang saling besar lengan berkuasa positif dan bahkan dampak negatif, tergantung dari administrasi dan tingkat kepedulian warga masyarakat kota yang bersangkutan.

Sampah yang kedengarannya menjijikkan, menimbulkan dampak sistimik, yang tiba kapan saja, tanpa diundang membawah sejuta malapetaka, baik untuk pemerintah dan masyarakat, insan dan mahluk hidup lainnya. Sudah banyak korban jiwa sia-sia yang tertimbun sampah, dan bangkitan polusi, sumber penyakit, atas cemaran limbah sampah yanag tidak terurus, berdampak serius terhadap kesehatan.Seyogia oleh pihak pemerintah daerah /pemerintah kota secara bijak memikirkan dan mengantisipasi akan dampak dan masalah yang kerap ditimbulkan, dengan mengundang semua pihak stakeholders (pemangku kepentingan) dalam menyikapi, banyak sekali hal baik dari sisi sumber sampah biar sampah tersebut tidak menimbulkan timbulan dampak sampah yang berbahaya, dan menjadi sumber penyakit, maupun ketidak nyamanan dan mengurangi nilai estetika lingkungan dikemudian hari.
Banyak ragam bentuk kebijakan dan pertanyaan, yang segera memperoleh solusi dan jawaban akurat dan bijak, salah satu pertanyaan apakah sudah ada regulasi yang mumpuni sanggup dijadikan pedoman bagi pemerintah kota dan warganya dalam penanganan dan pengelolaan sampah agar tidak menimbulkan masalah dan dampak serius bagi kita semua. Kedua, sudah sejauhmana tingkat kesadaran dan kepedulian warga untuk tidak membuang sampah disembarang tempat?, sikap inilah salahsatu tantangan pemerintah bagaimana merubah mindset, pola pikir dan perilaku menyikapi kondisi riil dimasyarakat, sehingga diharapkan kedepan penanganan dan pengelolaan persampahan dapat seirama dengan kehidupan manusia.
Menurut Undang Undang Nomor 18 tahun 2008, ihwal Pengelolaan sampah, dalam pasal (3), pengelolaan sampah ialah kegiatan yang sistimatis menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penangan sampah. Dalam amanah ini, disebutkan bahwa pengelolaan sampah diselenggarakan berdasarkan asas tanggung jawab azas berkelanjutan, asas mamfaat, asas keadilan. Asas kesadaran, kebersamaan, keselamatan, dan mempunyai nilai ekonomi. Meningkatnya kemajuan pembangunan suatu kota, terutama pada bidang industri, dan sektor perdagangan akan berkonsekensi terhadap kegiatan keseharian masyarakat dalam melakukan kegiatan hidupnya. Suka atau tidak suka kegiatan tersebut akan diiringi dengan timbulan sampah yang tidak terkendali yang diduga ditimbulkan dari kegiatan industri, perdagangan maupun kegiatan warga, yang sanggup menggangu kehidupan masyarakat, berupa timbulan sampah. Baik berupa limbah padat domestik maupun limbah cair.Dalam pengelolaan sampah kota biar tidak menimbulkan dampak maka sangat diharapkan peran aktif pemerintah kota dengan pelibatan masyarakat untuk turut peduli menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah yang telah digunakan. Bahwa dengan kepedulian yang tinggi, menyeluruh yang diiringi seruan, himbauan dan sosialisasi persuasif yang digagas pemerintah, sanggup membuahkan hasil maksimal dalam penanganan pengelolaan sampah.
Pengelolaan sampah yang efektif dan efisien tentunya memerlukan siklus pendekatan menyeluruh, mulai sumber, dari tingkat proses produksi suatu kegiatan (barang dan jasa) sampai pada selesai proses pengelolaannya, dan pengepakan, pengiriman dan selesai pemusnahannya melalui kebijakan Regulai “3 R” Reuse, Reduce dan Recyle.
Dalam pasal (20) UU Nomor 18 tahun 2008, mengenai pengurangan sampah perlu mendapat perhatian karena keberadaan sampah dalam jumlah yang banyak bila tidak dikelola secara baik dan benar akan menimbulkan gangguan dan dampak terhadap lingkungan. Salah satu solusi pengelolaan sampah, sebagaimana termaktub dalam UU No. 18/2008 tentang
Pengelolaan Sampah ialah penerapan sistem 3R atau reuse, reduce, dan recycle (3R).
Reuse berarti memakai kembali sampah yang masih sanggup digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang menimbulkan sampah. Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk gres yang bermanfaat.Beberapa kegiatan pengelolaan sampah melalui 3R yang sanggup dilaksanakan ialah sebagai berikut :
- Melakukan identifikasi jenis sampah yang ada di sekitar perjuangan perusahaan yang meliputi dari sumber sampah, sifat sampah dan bentuk sampah.
- Melakukan identifikasi sampah yang dihasilkan dari eksternalitas perusahaan.
- Menyusun acara pengelolaan sampah yang mengadopsi jenis sampah, eksternalitas perusahaan, prinsif 3R dan konsep tanggung jawab sosial dan lingkungan.
- Mengembangkan acara pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan nilai irit sampah.
- Melaksanakan community based waste management, seperti pemilihan sampah bersama masyarakat dan pembuatan kompos bersama atau oleh masyarakat.
- Melakukan pengembangan produk sampah, dengan menggunakan konsep 3R.
Indikator yang sanggup digunakan untuk mengukur keberhasilan kegiatan pengelolaan sampah melalui 3R ialah :
- Volume sampah yang dibuang ke TPA berkurang
- Sampah mempunyai nilai irit yang memberi kesempatan perjuangan bagi masyarakat
- Berkembangnya perjuangan sanggup berdiri diatas kaki sendiri berbasis daur ulang sampah
- Tingginya produk komposting yang dikerjakan oleh masyarakat.
Sampah dalam banyak sekali bentuk, apabila tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan masalah yang sangat krusial, dan sistimik. Dampak yang ditimbulkan dalam penanganan dan pengelolaan akan semakin rumit, atas pertimbangan tersebut diperlukan kebijakan pemerintah Kota Palopo, dalam mewujudkan Kota yang asri, higienis dan bermatabat.
Menurut N. Dunn (2000- 26), menawarkan batasan mengenai rumusan masalah sangat penting, Perumusan masalah sanggup membantu menemukan asumsi-asumsi yang tersembunyi, mendiagnosis penyebab- penyebabnya, memetakan tujuan- tujuan yang memungkinkan, memadukan pandangan- pandangan yang bertentangan dan merancang peluang-peluang kebijakan yang baru.Sejalan dengan kebijakan pemkot Palopo, dalam menangani dan mengelolah persampahan dan kebersihan, diterapkan prinsip/ kebijakan yaitu “ SETIAP LANGKAH TAK ADA SAMPAH BERSERAKAN”.Untuk mewujudkan prinsip tersebut dilandasi 3M + 1 P, (MAU, MAMPU, MORAL dan PEDULI “ Kebijakan ini disosialisasikan kepada seluruh pemangku kepentingan dan seluruh warga masyarakat, akan pentingnya penangan sampah dan kebersihan lingkungan.
B. Rumusan Masalah
Secara umum rumusan masalah dalam penelitian ini adalah;
- Upaya upaya apa yang perlu dilaksanakan Pemerintah dan masyarakat Kota Palopo dalam menangani persampahan dan kebersihan?
- Faktor faktor apa yang mengakibatkan dan mempengaruhi tingkat efektif dan efisien persampahan dan kebersihan?
- Strategi apa saja yang perlu dilakukan Pemerintah dalam meningkatkan penanganan persampahan dan kebersihan di Kota Palopo?
C. Tujuan Penelitian
Dalam menyusun planning penanganan dan atau pengelolaan persampahan dan kebersihan di Kota Palopo, maka perlu dipahami mengenai problem persampahan, yang merupakan masalah yang tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan kompleks, saling bekerjasama dan berinteraksi, mulai dari proses penangan sampah rumah tangga, tempat umum, tempat perdagangan, atau tempat pasilitas umum, pasilitas pariwisata, hingga pada proses pengangkutan ke Tempat proses Sampah Akhir (TPA).
Secara umum tujuan yang akan dicapai dari penanganan masalah tersebut antara lain;
- Mengidentifikasi komponen kegiatan yang bermasalah, yang berpotensi menjadi kendala dalam penanganan pengelolaan sampah dan kebersihan di Kota Palopo.
- Menemukan solusi pemecahan masalah baik berupa sistem pengelolaan maupun pemberian /pasilitas sarana dan prasarana penunjang.
- Mengkaji secara cermat atas keterlibatan / kiprah aktif masyarakat dan seluruh komponen masyarakat terkait (Instansi Pemerintah dan Lembaga forum non pemerintah) dalam membuat lingkungan bersih, asri.
D. Mamfaat Studi
Untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam penanganan dan pengelolaan persampahan dan kebersihan di Kota Palopo, diharapkan langkah langkah kongkrit dan strategis dalam melaksanakan pengka jian dan pendekatan riil dalam merumuskan sistem administrasi persampahan yang sempurna guna dan berhasil guna.Secara umum manfaat yang sanggup diperoleh:
- Perumusan dan penetapkan regulasi/ kebijakan dan planning strategis pengelolaan sistem persampahan
- Pengkajian dan penetapan lokasi potensial untuk dijadikan lokasi Tempat pembuangan sampah sementara (TPS) / kontainer, dan alternatif tempat pembuangan selesai sampah (TPA).
- Peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan TPS, Kontainer pada lokasi permukiman padat penduduk/ tempat basis sampah lainnya
- Perumusan acara pembangunan yang berpihak pada lingkungan hidup /ramah lingkungan dan berkelanjutane. Peningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat ihwal kebersihan lingkungan masing masing, dengan tetap menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarang tempat.
- Membangun pola pemberdayaan masyarakat, dengan mewujudkan kemitraan pihak ketiga, dan atau melaksanakan kerjasama antar daerah, dalam membangun pengelolaan persampahan yang efektif dan efisien.
II. TINJAUAN PUSTAKAA.
Pengertian Sampah
Menurut Azwar A (1979 :54) sampah ialah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh insan termasuk kegiatan industri, tetapi bukan biologis sebab (human waste) tidak termasuk didalamnya.
Sedang berdasarkan Mochtar M ( 1987:55), sampah ialah sesuatu yang tidak sanggup digunakan tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan insan dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Dari kedua, pendapat tersebut diatas, memperlihatkan bahwa semua produk kegitan manusia atau industri olahan terhadap kegiatan yang menghasilkan sisa kegiatan yang tidak dapat lagi dimamfaatkan walaupun dengan pola / metode daur ulang yang sanggup diduga menimbulkan limbah (padat maupun cair) Menurut UU Nomor 18 Tahun 2008, sampah ialah sisa kegiatan sehari-hari insan dan /atau proses yang berbentuk padat. Pada dasarnya sampah merupakan sesuatu yang sanggup menimbulkan masalah dampak (resiko) apabila tidak terkelolah dengan baik, namun apabila dikelolah kembali (daur ulang) akan menghasilkan reski.
B. Ruang Lingkup sampah yang sanggup dikelola
Berkenaan dengan sumber sampah yang sanggup dikelolah yaitu sampah rumah tangga / domestik, yaitu sumber sampah dari permukiman penduduk, yang potensinya cukup besar, tergantung jumlah penduduk (KK) daerah tersebut. Dalam artian bahwa semakin besar jumlah penduduk kota ybs. maka semakin besar volume sampah yang diproduksi. Disinilah diharapkan kearifan lokal, partipasi aktif masyarakat, kepedulian, kebersamaan dalam menangani prosesing sampah, dengan jalan melaksanakan pemilahan awal dari sumber sampah (rumah), dengan memasukkan kantong plastik, sesuai dengan jenis dan perlakuannya (sampah basah) warna hijau, dan (sampah kering) warna Kuning.
Sampah Komersial, yaitu sumber sampah yang berasal dari hotel, restoran, toko, industri, rumah makan, warung, pasar dan swalayan/ supemaket, indomart dll. Sampah ini tergolong potensial untuk mendapat perhatian dari pihak pengelolah (dinas kebersihan), sebab selain sampah kering yang berantakan disepanjang pelataran, samping atau sekitar perjuangan tsb, sering dijumpai sampah berair (utamanya pasar) tradisonal, dimana masih banyak ditemukan sampah berserakan, sebab selain sikap warga belum peduli terhadap kebersihan, pihak pengelolah kurang memperhatikan pemberian sarana prasarana (tong sampah) yang ditempatkan pada sudut pasar atau tempat potensi sampah, atau yang memudahkan warga biar tercipta nuansa lingkungan pembangunan kota yang asri, indah, nyaman dan berkelanjutan.
Fenomena yang kerap dijumpai diberbagai sudut kota masalah sampah masih menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah .Dalam penanganan sampah biar efektif, maka pihak penanggung jawab wajib menyiapkan tempat tong sampah (pasal 13 UU.Nomor 18Tahun 2008). Agar tata lingkungan kota, tumbuh dan berkembang seirama dengan kemajuan, dan skaligus menjadi idaman (kunjungan) wisatawan ke kota tsb. Dimana Kota asri, indah, nyaman, dijadikan sebagai rumah dan potongan yang tak terpisahkan kehidupan masyarakat dalam menjaga kebersihan biar tetap nampak alami, hidup dan hijau “green City”.
Pertumbuhan jumlah penduduk yang kurang terkendali membawah konsekuensi secara terbuka terhadap keberadaan kuantitas dan kualitas limbah sampah, yang turut diperparah dengan pola komsumsi masyarakat yang cenderung mengikuti pola siap saji dalam bentuk kemasan. Kemajuan budaya hidup masyarakat yang “modernitas” tinjauan dari sisi positifnya memang sanggup diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, dengan sistem “kemasan cepat saji” tersebut pada kenyataannya irit dan membantu dalam proses kegiatan apa saja.
Seperti hajatan keluarga dalam melangsungkan pesta keluarga, atau kegiatan rapat rapat, pertemuan, ataupun kegiatan wisata , dengan pola kemasan yang sudah menjadi potongan rutinitas keluarga, diakui atau tidak pada kenyataanya turut menawarkan keringanan. Ketersediaan air kemasan, makanan siap saji, sungguh sangat membantu baik dalam penyajian, maupun sisi waktu, dan tempat, secara irit sudah sanggup dihitung secara matematika memberikan “ keuntungan”. Namun disisi lain kehadiran botol kemasan, bungkus nasi, dll, menjadi sumber sampah yang tidak sanggup dihindari, yang apabila tidak mendapat kepedulian kita semua dalam menyikapi akan ekstensitas sampah, maka sanggup dipastikan cepat atau lambat gundukan timbulan sampah yang tidak “terurus”. Akan menimbulkan dampak secara sistimik.
Dari perkiraan asumsi tersebut, salah satu penyebab hadirnya sampah ditengah kebahagiaan kita, selain kesadaran dan kepedulian warga yang relatif “ masa bodoh”, dari tinjauan lain ditengarai keberpihakan “pemerintah” dalam mengurus dan menangani barang tak berguna, dalam menyiapkan dan mempasilitasi “ administrasi persampahan yang ramah lingkungan” sangat terbatas, walaupun Kabupaten /Kota telah memutuskan regulasi / Peraturan Daerah ihwal Persampahan dan Kebersihan.
Dalam undang undang Nomor 18 tahun 2008, ihwal Pengelolaan Sampah, dipertegas bahwa sampah telah menjadi permasalahan nasional, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara konprehensif dan terpadu, dari hulu ke hilir biar menawarkan mamfaat secara irit sehat bagi masyarakat, dan kondusif bagi lingkungan serta sanggup mengubah sikap masyarakat.
C. Penanganan sampah dengan pendekatan 3 M + 1 P
Kondisi suatu Kota ditentukan tingkat keasrian, kesejukannya, baik itu kota skala kecil ataupun Kota besar / Metropolitan, Keberadaan sampah disuatu Kota, sanggup dicirikan aroma yang menyengat bau busuk dan jorok, disudut – sudut permukiman dan lokasi kumuh tidak lepas pandang mewarnai timbunan sampah yang berantakan diperbagai penjuru kota, terutama diwilayah sentra pusat pertokoan, terminal atau pusat permukiman penduduk.Sampah merupakan suatu hal yang banyak menimbulkan problem dan beban sosial bagi pemerintah dan masyarakat.
Dari sumber sampah pada umumnya diklasifikasikan yaitu produk sampah yang berasal dari rumah tangga, sampah industri, sampah pertokoan , sampah pasar, sampah pada TPI, sampah permukiman, sampah ditempat wisata dan lain-lain. Sedang berdasarkan jenisnya sampah digolongkan yaitu sampah Organik dan sampah Non Organik.
Dari data pengelolaan sampah (BPS-2012), memperlihatkan bahwa dengan jumlah penduduk Kota Palopo, 148.372 Jiwa, dengan total produk sampah sekitar 460 M3. Sampah, dalam pengelolaan sampah / pengangkutan sampah dilayani sarana dan prasarana persampahan meliputi, Mobil sampah (Arm Rool 15 Unit), Dump truck 12 unit, kijang pick up 6 unit, sedang alat berat berupa Backloder (3 Unit), Dozer 3 unit, Excavator 2 unit, dan untuk sarana penunjang persampahan terdiri; Container yang tersebar pada 9 Kecamatan 35 unit,Mesin pembabat 25 buah, Mesin pemotong 3 unit, Handy Talky 15 buah.
Dari gambaran tersebut di atas, dengan keterbatasan kemudahan pendukung persampahan maka keseimbangan dalam produk sampah setiap harinya, tidak seimbang dalam artian masih terdapat banyak lokasi / sudut sampah berantakan yang tidak terangkut atau tidak tertangani oleh petugas. Dari data jumlah produk sampah hanya 50-60 % sampah tertangani, diangkut dan diproses pada TPA.
Keterbatasan ruang gerak pemerintah dalam penanganan /pengelolaan sampah dipandang perlu (pelibatan semua pihak berkepentingan) tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh wanita, mulai dari proses pengumpulan /pemilahan sampah rumah tangga, sekolah, kantor, toko, industri atau forum lain untuk turut peduli, dengan kegiatan komposting, selain itu untuk memasyarakatkan penanganan sampah perlu didukung budaya lokal, dengan pendekatan 3 M+1 P, yaitu;
MAU, dimaksudkan semua pihak yang berpotensi langsung maupun tidak pribadi dalam memproduksi sampah MAU dengan secara swadaya / swakelola, sukarela, sanggup berdiri diatas kaki sendiri dengan inisiatif sendiri untuk menyiapkan sarana dan prasarana persampahan dirumah tangganya, disekolah, kantor, pertokoan,hotel dan restoran, industri dll, serta tidak membuang sampahnya disembarang tempat. Hal ini diatur dalam (pasal 13), Pengelola tempat pemukiman kawasan komersial, tempat industri, tempat khusus, kemudahan umum, kemudahan sosial, dan kemudahan lainnya, wajib menyediakan fasilitas pemilahan sampah.
MAMPU, dimaksudkan dalam hal ini, pihak pemerintah bisa menawarkan pencerahan sosialisasi, akan wewenang dan tanggung jawab hak dan kewajiban masyarakat, forum / instansi terkait dalam penanganan dan pengelolaan persampahan, sebagaimana diuraikan dalam pasal (9) UU.Nomor 18 tahun 2008, dan pasal (45) UU.Nomor 32 tahun 2009 ihwal Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Disebutkan bahwa dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah, pemerintah Kabupaten / Kota mempunyai kewenangan ;
- Menetapkan kebijakan dan taktik pengelolaan sampah berdasarkan kebijakan nasional dan propinsi.
- Menyelenggarakan pengelolaan sampah skala kabupaten /kota sesuai dengan norma, standar, mekanisme dan kreteria yang ditetapkan pemerintah
- Melakukan training dan pengawasan kinerja pengelolaan sampah yang dilaksanakan oleh pihak lain,
- Menetapkan lokasi tempat penampungan sementara, tempat pengolahan sampah terpadu, dan atau tempat pemerosesan selesai sampah
- Melakukan pemantauan dan penilaian secara terencana setiap 6 (enam) bulan terhadap pemrosesan selesai sampah dengan sistem pembuangan terbuka yang telah ditutup,
- Menyusun dan menyelenggarakan sistem tanggap darurat pengelolaan sampah sesuai dengan planning tata ruang wilayah.
MORAL, dimaksudkan biar masyarakat berperilaku positif terhadap perlakuan sampah, dengan pertimbangan bahwa sampah yang tidak terurus/ terkelolah dengan baik akan menimbulkan imbas negatif, sumber penyakit yang berbahaya bagi dirinya ,keluarga dan masyarakat sekitar. Warga dituntut memiliki kepekaan, budaya aib untuk tidak membuang sampahnya disembarang tempat. Merasa aib sesama tetangga sebab tidak mempunyai tempat sampah / tong sampah, Merasa tidak bermoral sebab ulahnya menyebabkan kebersihan sebuah tempat / kota menjadi kotor dan terkotori oleh limbah.
Merubah sikap / tabiat dan kebiasaan individu, seseorang / kelompok masyarakat dalam menyikapi “keberadaan sampah” memerlukan waktu dan penyesuian yang memakan waktu lama. Memerlukan penyesuaian dan pola kongkrit / nyata, dan ketauladanan pimpinan keluarga, pimpinan unit kerja / instansi / lembaga, lingkungan kerja untuk mengelolah sampah.
PEDULI, dimaksudkan ialah kepedulian, kepekaan terhadap perwujudan kebersihan dan keindahan suatu kota, dimana setiap warga / unit kerja / forum pemeriuntah / swata merasa mempunyai dan bertanggung jawab terhsdsp kelangsungan suatu kebersihan dan keindahan. Kepedulian dan kepekaan untuk tidak membuang sampahnya digot/ drainase, sebab akan berdampak terhadap banjir, berdampak secara sistimik terhadap sumber penyakit yang menular dll.
Kebersamaan yang diikuti tanggung jawab oleh semua pihak, untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan maka secara struktural pengelolaan sampah yang menjadi tantangan, masalah yang tidak pernah tuntas, dipastikan akan selesai dengan baik.Demikian pula kepedulian Pihak pemerintah untuk menyiapkan dana? Anggaran persampahan setiap tahunnya, dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang didukung oleh pihak legislatif dalam memback up anggaran, sehingga pengelolaan persampahan berkesinambungan, asri, sehat, indah dan nyaman. Kepedulian ini, dimaksudkan hadir dari pihak perbankan, swasta, pemilik hotel dan restoran, pemilik perusahaan industri untuk menyiapkan dana SCR ( Sosial Coperate Responsibility) dalam membantu pemerintah daerah (Kab/Kota) untuk pengadaan gerobak sampah, motor sampah dll.
D. Definisi Operasional
Untuk menyamakan persepsi dalam penanganan dan pengelolaan persampahan di Kota Palopo, maka secara ringkas diberikan definisi operasional yang dasar pemahaman terhadap beberapa hal yang berkaitan dengan kegiatan penanganan sampah dan kebersihan, di Kota Palopo.
- Sampah ialah suatu sisa barang atau benda yang terdiri dari zat organik dan Nonorganik, yang sudah tidak sanggup digunakan, atau masih sanggup digunakan untuk kebutuhan lain.
- Pengelolaan sampah, ialah kegiatan yang sistimatis menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penangan sampah dengan sistem 3 R
- Sanitasi Lingkungan ialah suatu keadaan sekitar lingkungan permukiman yang bisa menjaga keseimbangan ekologi biar tetap dinamis antara kelompok insan dengan lingkungannya.
- 3 R, ialah sistem proses daur ulang, dengan memakai kembali (reuse), atau mengurangi timbulnya sampah (Reduce), atau mengolah kembali / daur ulang (recyle), menjadi produk gres yang bermamfaat.
- Tempat pembuangan sampah sementara, (TPS), ialah suatu wadah /tempat untuk menampung sementara, sampah baik sipatnya permanen atau dari materi plastik
- Pencemaran lingkungan, ialah rusaknya kondisi alam tanggapan sesuatu limbah yang sanggup diduga menimbulkan dampak lingkungan.
- Pengumpulan sampah, ialah suatu proses pengumpulan sampah oleh kenderaan sampah, baik yang dimasukkan dalam wadah plastik didepan rumah masyarakat, tempat permanen, atau kontainer untuk selanjutnya diangkut ke lokasi TPA.
- Tempat Pembuangan selesai sampah (TPA), ialah suatu lokasi untuk menampung dan memproses sampah yang diangkut oleh armada sampah.
III. METODE PENELITIAN
A. Jenis penelitian
Dalam penelitian ini akan dilakukan dengan tehnik analisa kuantitatif, dengan metode pendekatan penelitian deskriptif. Untuk efektifnya penelitian ini dilakukan melalui Action Research (penelitian tindakan) berdasarkan Sugiyono, (2012:9 ) bertujuan untuk membuatkan metode kerja yang paling efisien, sehingga biaya produksi sanggup ditekan dan produktivitas forum sanggup meningkat, Metode ini dilakukan untuk mengkaji bersama-sama ihwal kelemahan dan kebaikan prosedure kerja, metode kerja, dan alat-alat kerja yang digunakan.
B. Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu 2013, sedang obyek / lokasi penelitian dilakukan di Kota Palopo, dengan lokasi sampel meliputi 5 kecamatan dari 9 kecamatan, dari ke 5 kecamatan sebagai sampel meliputi; Kec. Wara, Kec. Wara Timur, Kec. Wara Selatan, Kec. Wara Utara, dan Kec. Wara Barat, dimana Kelurahan diambil 3 orang sebagai sampel. Dan dijadikan sebagai sentra layanan / penanganan persampahan di Kota Palopo, melalui Dinas Kebersihan dan Permakaman.
C. Populasi dan Sampel
Yang menjadi populasi dalam penelitian ini, ialah Kepala Bidang Kebersihan, Lurah / Staf Kelurahan, tenaga kebersihan, Tokoh masyarakat dan Sopir angkutan sampah. Pada Dinas Kebersihan dan Permakaman.Secara rinci jumlah populasi dari tiap jenis, ialah sebagai berikut;
- KepalaBidang Kebersihan……= 1 Orang
- Lurah………………………………=15 orang
- Tenaga operator kebersihan….= 27 orang
- Kebersihan sungai……………..= 2 orang.
- Penyapu jalan………………….. =20 orang
- Kebersihan drainase…………. = 5 orang.
- Tokoh masyarakat………………= 2 orangh.
- Tokoh wanita…………………….= 1 orangi.
- Tokoh Agama…………………….= 1 orang
D. Pengumpulan dan analisa data
Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan :
- Observasi, ialah tehnik pengumpulan data dengan melaksanakan pengamatan pribadi dilapangan, pada beberapa tempat / kelurahan sampel yang ditetapkan.
- Kusioner, ialah tehnik pengumpulan data dengan memakai materi / format isian yang diberikan kepada beberapa responden yang diharapkan sanggup menawarkan input / masukan ,saran perbaikan kinerja, penanganan pengelolaan persampahan.
- Wawancara, ialah tehnik pengumpulan data pada beberapa responden dengan melaksanakan komunikasi pribadi ,yang bertujuan untuk menjaring informasi akurat dan aktual, dalam perbaikan kinerja dalam penanganan dan pengelolaan kebersihan.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANA.
Upaya Upaya dalam meningkatkan pengelolaan sampah
Sampah merupakan ciri khusus sebuah kota, sampah dalam wujud apa saja, oleh sebagian masyarakat dipandang sebagai barang yang tidak mempunyai nilai disisi lain dampak sampah yang menjadi ancaman berdampak sistimatik disegala aspek dan ruang. Kota Palopo sebagai salah satu kota otonom memperlihatkan perkembangan dan pertumbuhan yang sangat signifikan dalam banyak sekali bidang pembangunan, baik dalam bidang pembangunan fisik, sektor ekonomi, pendidikan dan sektor-sektor lainnya. Peningkatan kegiatan khusus pada sektor ekonomi dan perdagangan, pada hakekatnya memicu peningkatan volume limbah / timbulan sampah.
Peningkatan jumlah penduduk perkotaan tidak sanggup dihindari, dan sangat dipengaruhi oeh kiprah dan fungsi sebuah Kota. Kota Palopo sebagai salah satu Kota Transit yang menghubungkan dua belahan Sulawesi, yaitu Sulawesi Selatan di Bagian Utara dan Sulawesi Tengah / Utara. Menjadikan kota ini mempunyai daya tarik tersendiri yang pada pada dasarnya menjadi daya tarik dalam mengundang warga daerah sekitar untuk melaksanakan kunjungan dan kegiatan transaksi jual beli. Dengan kemajuan tersebut, suka atau tidak suka atas pertumbuhan dan kemajuan yang cukup signifikan tersebut, menjadikan volume timbulan sampah akan ikut mengalami peningkatan. Dalam mengantisipasi, menjaga dan mempertahankan kebersihan lingkungan perkotaan, maka perlu dilakukan upaya- upaya yang terencana, sistimatis, dan propesional berkelanjutan.
Upaya pemecahan masalah timbulan sampah yang mengalami peningkatan volume harus mendapat perhatian penanganan dan pengelolahan secara bijak dan propesional.
Fakta / data memperlihatkan peningkatan volume sampah dari ke tahun mengalami peningkatan yang cukup besar, dan disisi lain tidak diikuti dengan kebijakan pemerintah Kota dalam pengadaan sarana dan prasarana pendukung persampahan termasuk pemberian anggaran dana operasional dan kesejahteraan tenaga kebersihan di lapangan.
Dari gambaran di atas, memperlihatkan jumlah sarana dan prasarana persampahan, yang jumlahnya belum maksimal dalam melaksanakan kiprah rutin /operasionalisasi persampahan, dimana tiap tahunnya volume sampah bertambah, sebab Setiap tahunnya Kota Palopo secara kewilayahan termasuk sentra lokasi pengembangan permukiman / perumahan gres terbangun. Dan disisi lain unit sarana tidak mendapat pemeliharaan / tidak mendapat pelengkap unit baru, sebab keterbatasan alokasi anggaran yang disiapkan pada unit kerja Kebersihan dan Permakaman setiap tahunnya.
Beberapa upaya dalam penanganan dan pengelolaan sampah;
1. SETIAP LANGKAH TAK ADA SAMPAH BERSERAKAN
Untuk mengerakkan dan memotivasi seluruh warga masyarakat Kota Palopo dalam mewujudkan Kota bersih, indah hening dan Nyaman (Idaman), oleh pemkot menggelorakan semangat kebijakan dalam menangani persampahan. Dalam pemikiran tersebut Sampah merupakan suatu kebutuhan, potongan dari kehidupan yang tidak perlu dirisaukan / ditakuti, sebab ssungguhnya sampah yang setiap hari diproduksi oleh masyarakat sesunggunya mempunyai nilai, yang apabila ditangani, dikelola dan diperlakukan dengan administrasi akan menawarkan nilai ekonomi dan pencitraan suatu Kota, menjadi tolok ukur keberhasilan suatu Pemerintah dan warganya, dengan terwujudnya kebersihan kota pada hakekatnya seluruhnya ialah orang beriman,” kebersihan ialah sebagian dari Iman”.
William N.Dunn (2000- 210) menyebutkan bahwa masalah masalah kebijakan ialah kebutuhan, nilai nilai atau kesempatan kesempatan yang tidak terealisir, tetapi yang sanggup dicapai melalui tindakan publik.Perumusan masalah merupakan sistem petunjuk pokok atau mekanisme pendorong yang mempengaruhi keberhasilan semua fase. Atas motto tersebut” Setiap langkah tak ada sampah berserakan” dijadikan ajang kebijakan publik dalam memobilisasi dan menggerakkan dinamika pembangunan. Bahwa setiap warga / masyarakat Kota Palopo, pemilik toko, warung, diwajibkan untuk menyiapkan tongsampah didepan rumah masing-masing, diharapkan masyarakat Kota menjadi panutan untuk tidak membuang sampahnya disembarang tempat, diharapkan forum /unit kerja lebih berperan aktif bersama masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dengan menerapkan, melaksanakan kerja bakti “ Jumat Bersih-Bersih” bagi instansi pemerintah /lembaga lain yang akan memperingati hariulang tahunnya, diharapkan melaksanakan kegiatan sosial dan mengambil potongan bersih- higienis pada lokasi tertentu.
2. Mengangkat Tenaga pengelola persampahan, jalan, drainase, dan bantaran sungai.
Kota Palopo, yang dialuri 2 buah sungai besar yang membelah Kota,yaitu sungai Amassangan dan sungai Boting. Kedua bantaran sungai ini oleh sebagian masyarakat yang bermukim disekitarnya, menjadikan sungai ini menjadi tong sampah alternatif yang ampuh, walaupun oleh pemkot telah memasang Papan Larang membuang sampah kedalam sungai (Peraturan Walikota Palopo Nomor: 29 Tahun 2005, ihwal Pelaksanaan Perda Kota Palopo Nomor 13 Tahun 2004).
Sistim penanganan dan pengelolaan sampah pada tempat sungai. Dilakukan dengan sistem alur jaring / pukat biar pergerakan sampah yang masuk, terbawah arus pasang dengan otomatis tersangkut pada jaring sampah yang terpasang, demikian pula pergerakan sampah yang terbawah air sungai pada tempat tertentu, dipang jaring sampah sehingga sampah tidak hanyut kelaut.Pemasangan jaring sampah merupakan alternatif ampuh / efektif / efisien, dalam mengantisipasi pergerakan sampah yang meluber melalui dua alur sungai tersebut. Pengelolaan ini dimaksudkan biar sidimentasi lumpur, dan penyimpitan muara yang menimbulkan banjir dan pendangkalan muara sungai sanggup diantisipasi lebih dini.
Selain pemasangan jaring sampah, oleh pihak pengelolah kebersihan, dalam menjaga dan mewujudkan sungai bersih, ditunjukkan / ditugaskan, ditempatkan tenaga operator kebersihan yang diberikan kiprah khusus menjaga dan membersihkan sampah sungaai, dan untuk menjaga kesehatan dan menghindari rasa kejenuhan maka dilakukan sistem pergeseran, pertukaran ship setiap seminggunya.
Penunjukkan / penugasan pengelolaan persampahan jalan dan drainase sebagai langkah kongkrit dilakukan pemkot Palopo, dalam menjaga dan mewujudkan Kota Indah, hening dan Nyaman (Idaman),sehingga pencitraan kota higienis yang bebas sampah,” dimana salah satu upaya yang digagas ialah memutuskan menugaskan tenaga operator kebersihan khusus lokasi jalan dan drainase. Tugas dan tanggung jawabnya ialah menjaga dan membersihkan lokasi disepanjang jalan dan drainase / got dalam wilayah Kota,sampah dijalan / got dibersihkan utamanya tumbuhan gulma, sampah yang terbuang berantakan di jalan dan di got yang selanjutnya diangkut dan dikumpulkan pada TPS terdekat. Untuk efektif efisiennya pekerjaan tersebut dikelompokkan tenaga kerja sesuai dengan wilayah kerja / batas wilayah kecamatan. Dan penempatan tenaga operator kebersihan ini masing masing diawasi seorang petugas mandor yang ditunjuk.
3. Menyusun Regulasi dan Pemasangan papan himbauan/ larangan membuang sampah disembarang tempat.
Hal ini dilakukan untuk mengingatkan seluruh warga dan pengunjung, untuk tidak membuangnya disembatrang tempat, biar senantiasa tercipta keindahan, keasrian dan kenyamanan kota. Papan hibauan / larangan dipasang dibeberapa titik lokasi / permukiman padat penduduk, pasar, dititik sungai atau tempat yang urgent lainnya. Pemasaangan papan ini didasarakan Peraturan Daerah Kota Palopo Nomor 13 Tahun 2005, ihwal Retribusi pengelolaan kebersihan/persampahan. Yang selanjutnya ditindak lanjuti dengan regulasi / peraturan Walikota Palopo Nomor 29 tahun 2005,tentang pelaksanaan Peraturan Daerah ini.Tentang Larangan membuang sampah disembarang tempat/ atau kesungai. Selain pemasangan papan larangan, dana untuk membuat imbas jera bagi pelanggara peraturan ini, diberikan hukuman dengan denda. Namun pada kenyataannya model dan sistem ini tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.Menurut Sugiyono (2012-9) untuk meningkatkan dan memperbaiki mekanisme dan metode kerja, administrasi kerja dipandang perlu melaksanakan “ Action Research (penelitian tindakan), untuk mengkaji bersama-sama ihwal kelemahan dan kebaikan mekanisme kerja, dan alat-alat kerja yang dugunakan selama ini dan selanjutnya metode kerja bau yang dipandang lebih efisien .
D. Faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat efektivitas kebersihan
Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi Kota Palopo, dalam 2 tahun berturut-turut (2011/2021 dan 2012/2013), tidak meraih penghargaan tertinggi dalam pengelolaan lingkungan hidup dan kebersihan Kota, ”ADIPURA” sebab dianggap Pemerintah dan masyarakat gagal dalam manejemen dan mempertahankan reward yang pernah disandang 6 tahun berturut-turut (2004-2010), faktor faktor berpengaruh, antara lain;a. Rendahnya Tingkat kepedulian warga masyarakat terhadap persampahanb. Manajemen dan pola kerja persampahanc. Pengadaan sarana dan prasaran persampahan terbatasd. Penggalokasian dana/anggaran operasional persampahan
E. Strategi (Model) Pengelolaan Sampah
Dengan mempertimbangkan kondisi kultural dan perkembangan sosial ekonomi masyarakat maka dipandang perlu merubah pendekatan ,strategi terhadap penanganan persampahan biar lebih effektif dan efisien, salah satunya ialah merubah pola pikir dan sikap masyrakat secara sedikit demi sedikit ihwal pentingnya sadar lingkungan yang berkaitan dengan penanganan persampahan.
Secara umum, beberapa langkah / model yang ditawarkan dalam penangan persampahan dalam wilayah kota Palopo,
1. Pengembangan SDM masyarakat,
Langkah ini dilakukan biar warga masyarakat, merasa mempunyai dan bertanggung jawab terhadap persampahan, maka pihak stakholders (utamanya) tokoh penggerak/ tokoh masyarakat yang besar lengan berkuasa atau kelompok kelompok militan menyerupai Dasa wisma , PKK, karang taruna ,pramuka dll, diberikan wawasan untuk mengikuti workshop, seminar, dll. Hal ini dimaksudkan lebih dini memahami dan mau, bisa untuk melaksanakan apa yang bekerjasama dengan kebersihan, selain itu diharapkan sanggup meningkatkan korelasi training dalam bentuk pengarahan baik pribadi maupun tidak langsung, yang disponsori oleh Pemerintah, LSM. Kegiatan ini dilaksnakan secara intensif, dengan melibatkan warga sebanyak mungkin.
2. Pemberlakuan sanksi
Metode training dalam bentuk penerapan hukuman bagi warga yang tidak patuh terhadap peraturan daerah Kota Palopo Nomor 13 tahun 2005, pemberian denda atau paling tidak pendekatan persuasip biar masyarakat mau melaksanakan hak dan kewajiban dalam pengelolaan persampahan.
3. Pelaksanaan komposting
Salah satu langkah dalam mengurangi dan mengurai timbulan sampah berserakan utamanya sampah organik (daun-daunan, dan sejenisnya) maka dilakukan komposting. Melakukan daur ulang sampah untuk diubah menjadi produk lain ataupun diubah menjadi energi yang mempunyai nilai ekonomis. Kegiatan ini sangat membantu pemeintah dan masyarakat dalam membuka lapangan usaha, lapangan kerja serta peningkatan income perkapita.Untuk memasyarakatkan dalam implementasinya, pemerintah seyogianya mempasilitasi dan menawarkan insentif (reward) bagi pengelola, dan sekaligus menawarkan ruang kerja untuk melaksanakan kolaborasi dengan p[ihak unit kerja dalam memasarkan hasil kompostingnya.
4. Pembentukan kemitraan & Pemberdayaan masyarakat
Langkah ini dilakukan pemerintah kerjsama dengan pihak pendidikan, dunia usaha, koperasi dll. Untuk melaksanakan kawan sosial, mengingat pendapatan dari kegiatan ini tidak menjanjikan, melainkan pembelajaran dan kepedulian kerja sosial. Kegiatan ini dimaksudkan biar dunia pendidikan membentuk koperasi sampah sekolah (Bank Sampah Sekolah), biar anak secara dini diberikan ruang untuk menghargai sampah dan sekaligus menawarkan imbalan dan pembelajaran positif, bahwa dengan kerja sanggup menghasilkan atau dengan kata lain mengumpulkan sampah yang berseraakan, gotong royong ada nilai rupiah, sekaligus memberi nilai estetika bagi lingkungan sekolah. Demikian pula dengan warga pemulung dibuat wadah /” koperasi pemulung” untuk menghimpun pekerja pekerja sosial, biar terarah, terkoordinir dan merasa diterima ditengah masyaraakat.
5. Membentuk Perusahaan Daerah dalam mengelola persampahan,
Seiring dengan penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik, salahsatu prinsip ialah “Streing rather than rowing” dalam artian pengelolaan kebersihan dipihak ketigakan, pemerintah cukup dengan menawarkan isyarat petunjuk tehnis dan kebijakan publik, tak perlu pribadi melaksanakan kiprah tersebut sebab kegiatan ini bersipat umum, dan sudah tersedia wadah / sdm yang akan menangani. Terbukti tenaga lepas operator yang dipekerjakan pada umumnya tenaga kontrakkan, yang gaji/ imbalannya dibayar setiap minggunya.
F. Rencana pengembangan dan Pengelolaan Sampah dan Kebersihan Kota Palopo
Dalam mewujudkan Kota Asri, Aman dan Nyaman, salah satu Rencana Aksi antara lain;
- Rencana pengembangan Struktur dan Tata kerja unit pengelola sampah / kebersihan
- Rencana penambahan sarana dan prasarana mobilitas, menyerupai tong sampah, motor sampah, gerobak sampah dan kontainer yang akan ditempat pada masing masing kelurahan atau lokasi permukiman padat penduduk, Pasar dan tempat wisata
- Rencana penambahan pengangggaran biaya operasional, termasuk penambahan tenaga / buruh kerja dalam bentuk kontrak
- Rencana unit kebersihan dijadikan kiprah dan fungsi kepihak ketiga, atau dalam bentuk UPTD.
V. PENUTUPA.
Kesimpulan
1. Dalam mewujudkan suatu Kota indah, asri dan nyaman diharapkan kepedulian seluruh stakeholders, dan keberpihakan pemerintah dengan serius melaksanakan Fungsi fungsi administrasi penanganan dan pengelolaan sampah sebagaimana mestinya, biar tidak menjadi masalah publik
2. Pemerintah diharapkan dalam setiap tahunnya, mengalokasikan anggaran pendanaan bidang kebersihan sehingga proses administrasi pengelolaan persampahan dan kebersihan efektif dan efisien dan berkelanjutan.
B. Saran
Dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, sebaiknya penanganan / pengelolaan persampahan / kebersihan Kota Palopo, dipihak ketigakan atau minimal dalam bentuk UPT. Sehingga anggaran dalam pengadaan sarana dan prasarana persampahan termasuk biaya tenaga operasional yang jumlahnya cukup besar, tidak lagi menjadi beban APBD.
Sumber https://idtesis.com